Skip to content

Nursing Ethic

Nursing Ethic Search Engine

  • Home
  • 2024
  • September
  • 24
  • Analisis Studi Kasus: Penyampaian Informasi Kesalahan Human Error

Analisis Studi Kasus: Penyampaian Informasi Kesalahan Human Error

Posted on September 24, 2024September 24, 2024 By admin No Comments on Analisis Studi Kasus: Penyampaian Informasi Kesalahan Human Error
Uncategorized

Pada tahun 2016, peneliti di Johns Hopkins menemukan bahwa kesalahan medis telah menggantikan penyakit pernapasan sebagai penyebab kematian ketiga tertinggi (Makary & Daniels, 2016; McMains, 2016). Hal ini menjadi hal yang perlu disoroti. Situasi seperti ini menjadi dilema etik untuk menyampaikan kepada pasien. Oleh karena itu, perawat perlu memahai bagaimana cara mengkomunikasikan kepada pasien terkait penyampaian kesalahan akibat human eror tersebut.

Kasus (Sorrell, 2017)

Sarah, seorang perawat onkologi, melakukan kesalahan dalam pemberian dosis kemoterapi kepada pasien bernama Mrs. May, memberikan lebih dari dua kali dosis yang diresepkan. Setelah menyadari kesalahan tersebut, Sarah dengan segera melaporkannya kepada manajer perawat dan dokter yang menangani Mrs. May. Dokter menjelaskan bahwa Mrs. May akan sangat sakit tetapi tidak akan meninggal karena overdosis tersebut, dan mereka akan mengambil langkah-langkah untuk menangani efek samping. Sarah kemudian meminta maaf kepada Mrs. May dan menjelaskan situasi yang terjadi. Beruntung, Mrs. May pulih dan kesalahan tersebut tidak menyebabkan kematian, meski membuat pasien sangat sakit selama beberapa minggu.

Rekomendasi Resolusi

  • Pengakuan dan Pelaporan Kesalahan kepada Tim Medis:

Cara Komunikasi: Perawat harus segera melaporkan kesalahan kepada atasan atau manajer, serta dokter yang bertanggung jawab atas perawatan pasien. Komunikasi harus dilakukan dengan tenang dan jelas, mencakup rincian tentang kesalahan yang terjadi, seperti jenis kesalahan, dosis obat yang diberikan, dan waktu pemberian.

Contoh Komunikasi: “Saya ingin melaporkan bahwa saya telah memberikan dosis kemoterapi sebesar 250 mg kepada pasien Mrs. May, sementara dosis yang sebenarnya diresepkan adalah 100 mg. Saya sangat khawatir tentang dampak potensial dari kesalahan ini dan ingin memastikan langkah-langkah yang tepat diambil untuk menangani situasi ini.”

  • Komunikasi dengan Pasien dan Keluarga:

Cara Komunikasi: Setelah berdiskusi dengan tim medis, perawat harus berkomunikasi langsung dengan pasien dan, jika memungkinkan, dengan keluarganya. Komunikasi ini harus dilakukan dengan jujur, terbuka, dan penuh empati. Perawat harus mengakui kesalahan, meminta maaf, dan menjelaskan apa yang terjadi serta tindakan yang akan diambil untuk memperbaiki situasi.

Contoh Komunikasi: “Mrs. May, saya ingin berbicara dengan Anda tentang sesuatu yang penting. Saat memberikan kemoterapi, saya secara tidak sengaja memberikan dosis yang lebih tinggi dari yang diresepkan. Saya sangat menyesal atas kesalahan ini. Kami telah berbicara dengan dokter, dan kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan Anda mendapatkan perawatan yang tepat. Saya di sini untuk mendukung Anda dan akan menjawab pertanyaan apa pun yang Anda miliki.”

  • Mengatasi Reaksi Emosional Pasien dan Keluarga:

Cara Komunikasi: Dengarkan dengan penuh perhatian dan berikan ruang bagi pasien atau keluarga untuk bereaksi. Reaksi bisa berupa kejutan, kemarahan, atau kecemasan. Penting bagi perawat untuk tetap tenang, menunjukkan empati, dan mengakui perasaan pasien.

Contoh Komunikasi: “Saya mengerti bahwa ini mungkin sangat mengejutkan dan membuat Anda khawatir. Reaksi Anda sangat wajar, dan saya di sini untuk mendukung Anda melalui proses ini.”

  • Memberikan Informasi Tentang Tindakan Korektif:

Cara Komunikasi: Jelaskan dengan jelas langkah-langkah yang akan diambil untuk menangani situasi dan memastikan keselamatan pasien. Ini termasuk tindakan medis apa yang akan dilakukan dan bagaimana tim akan terus memantau kondisi pasien.

Contoh Komunikasi: “Dokter telah merencanakan untuk memberikan perawatan tambahan untuk membantu meningkatkan jumlah sel darah Anda dan mencegah efek samping yang serius. Kami akan memantau kondisi Anda dengan sangat ketat selama beberapa hari ke depan.”

  • Meyakinkan dan Menawarkan Dukungan Berkelanjutan:

Cara Komunikasi: Pastikan pasien tahu bahwa perawat dan tim medis ada untuk memberikan dukungan berkelanjutan. Tawarkan untuk menjawab pertanyaan lebih lanjut dan jaga komunikasi terbuka.

Contoh Komunikasi: “Saya ingin Anda tahu bahwa saya di sini untuk Anda. Jika ada pertanyaan atau kekhawatiran yang muncul, silakan hubungi saya kapan saja. Kami akan bekerja sama untuk memastikan Anda mendapatkan perawatan terbaik.”

Rekomendasi Resolusi Finansial

Penelitian sebelumnya oleh Chunliu Zhan dan koleganya dalam Mello dkk (2008) menemukan bahwa rumah sakit menanggung sekitar dua pertiga dari biaya tambahan yang terkait dengan kejadian yang merugikan, sementara sepertiganya ditagihkan ke Medicare (Asuransi Kesehatan Nasional). Namun, analisis ini hanya mempertimbangkan biaya yang berkaitan dengan rawat inap awal. Penelitian yang dilakukan oleh Mello dkk (2008) mengambil pendekatan yang lebih komprehensif dengan memperhitungkan semua biaya yang mungkin harus ditanggung rumah sakit melalui sistem tanggung jawab hukum, termasuk biaya perawatan rawat inap dan rawat jalan, hilangnya pendapatan, biaya pengobatan di masa depan, biaya pemakaman untuk cedera fatal, dan kerugian non-ekonomi seperti rasa sakit dan penderitaan.

Dalam penelitian ini, data dari 14.732 catatan keluar pasien dari 24 rumah sakit menunjukkan 465 kejadian merugikan yang disebabkan oleh manajemen medis, termasuk 127 kejadian yang dapat dikaitkan dengan kelalaian, dengan total biaya diperkirakan sekitar $439 juta. Rata-rata, rumah sakit mengeksternalisasi 78% dari total biaya untuk semua cedera dan 70% dari biaya cedera akibat kelalaian, mengalihkan sebagian besar beban biaya kepada pihak ketiga seperti asuransi. Variasi antara rumah sakit menunjukkan bahwa beberapa rumah sakit menanggung sedikit atau tidak ada biaya sama sekali, sementara yang lain menanggung sebagian besar biaya tersebut.

Post navigation

❮ Previous Post: Studi Kasus: Penyampaian Berita Buruk
Next Post: Analisis Studi Kasus: Penolakan Tindakan ❯

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Studi Kasus Etik
  • Analisis Studi Kasus: Pasien Korban Kekerasan (Domestic Violence)
  • Analisis Studi Kasus: Inform Consent/ Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Emergensi Tanpa Keluarga/Wali
  • Analisis Studi Kasus: Hambatan Biaya
  • Analisis Studi Kasus: Penolakan Tindakan

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!

Archives

  • February 2025
  • September 2024

Categories

  • Uncategorized

Copyright © 2026 Nursing Ethic.

Theme: Oceanly by ScriptsTown