Kondisi atau situasi tertentu, terkadang mengharuskan perawat untuk menyampaikan berita buruk. Namun, keterampilan ini pada umumnya jarang dikuasai perawat, atau perawat kurang terampil dalam hal ini. Para ahli juga menunjukkan bahwa klinisi sering kali merespons dengan perasaan pribadi mereka terhadap kabar buruk tersebut. Menyampaikan kabar buruk kadang-kadang dianggap sebagai keterampilan yang bisa dikuasai oleh para klinisi dengan memperhatikan kata-kata, lingkungan, dan sikap saat mereka menyampaikan informasi yang mengejutkan. Namun, selain menyampaikan kabar buruk, para klinisi juga diminta untuk membantu menangani konsekuensi dari kabar tersebut—tugas yang memerlukan tidak hanya nasihat dan pelatihan ahli, tetapi juga perhatian terhadap isu eksistensial dan spiritual pasien (Rabow & McPhee, 1999).
Adapun tujuan awal dalam menyampaikan kabar buruk (Rabow & McPhee, 1999):
- Memungkinkan ventilasi emosi
- Mencapai pemahaman bersama terkait masalah
- Memenuhi kebutuhan informasi dasar
- Menangani risiko medis mendesak, termasuk risiko bunuh diri
- Merespons ketidaknyamanan yang segera terjadi
- Memastikan adanya rencana dasar untuk tindak lanjut
- Mengantisipasi hal-hal yang belum dibicarakan
- Meminimalkan rasa kesepian dan isolasi (memberikan jaminan bahwa pasien tidak akan ditinggalkan)
Terdapat beberapa metode atau teknik strategi dalam penyampaian berita buruk. Salah satu yang dapat diterapkan adalah metode ABCDE oleh Rabow & McPhee (1999):
Advance Preparation (Persiapan Awal)
- Tanyakan apa yang sudah diketahui dan dipahami pasien, serta bagaimana mekanisme koping mereka.
- Atur kehadiran orang pendukung dan anggota keluarga yang sesuai.
- Tentukan waktu dan tempat yang tidak akan terganggu (misalnya, tanpa suara bip monitor).
- Persiapkan emosi diri.
- Tentukan kata-kata dan frasa yang akan digunakan (buat naskah).
- Latih cara menyampaikan kabar buruk.
Build a Therapeutic Environment/Relationship (Membangun Hubungan Terapeutik)
- Atur tempat yang tenang dan privat tanpa gangguan.
- Berikan kursi yang memadai untuk semua orang.
- Duduk cukup dekat untuk menyentuh jika sesuai.
- Berikan jaminan mengenai rasa sakit, penderitaan, dan ketidakabandonan.
Communicate Well (Berkomunikasi dengan Baik)
- Bersikap langsung (misalnya, “Saya minta maaf, saya punya kabar buruk”).
- Hindari menggunakan eufemisme, jargon, atau akronim.
- Gunakan kata “kanker” atau “kematian” dengan jelas.
- Beri waktu untuk diam.
- Gunakan sentuhan dengan tepat.
- Minta pasien mengulangi pemahaman mereka tentang kabar tersebut.
- Berikan informasi tambahan sesuai kebutuhan.
- Gunakan tulisan atau penjelasan tambahan sebagai pengingat.
Deal with Patient and Family Reactions (Menangani Reaksi Pasien dan Keluarga)
- Pahami potensi reaksi pasien:
- Respons fisiologis: lari, melawan, menyendiri.
- Strategi koping kognitif: penolakan, menyalahkan, rasionalisasi, ketidakpercayaan, penerimaan.
- Respons afektif: kemarahan, ketakutan, kecemasan, keputusasaan, rasa malu, kelegaan, kesedihan.
- Dengarkan secara aktif, jelajahi perasaan, ungkapkan empati.
Encourage and Validate Emotions (Dorong dan Validasi Emosi)
- Koreksi distorsi pemahaman.
- Tawarkan untuk memberi tahu orang lain atas nama pasien.
- Evaluasi dampak kabar buruk.
- Jelajahi apa yang diperlukan selanjutnya.
- Tawarkan sumber daya dan dukungan lebih lanjut.
- Sediakan materi tertulis.
- Atur tindak lanjut.
- Proses perasaan diri sendiri.
Kasus:
Seorang perawat harus memberitahu Bapak Surya, seorang pasien, bahwa kondisi medisnya terlalu kompleks untuk ditangani di rumah sakit ini. Selain itu, biaya perawatan di rumah sakit ini juga akan sangat mahal. Namun, ada alternatif untuk merujuk Bapak Surya ke rumah sakit lain yang dapat memberikan perawatan yang diperlukan dengan biaya yang lebih terjangkau.
Langkah Komunikasi Penyampaian Berita Buruk Teknik ABCDE
A. Persiapan Awal (Advance Preparation)
Persiapan Informasi dan Emosi:
- Perawat meninjau catatan medis Bapak Surya dan mempelajari detail mengenai kompleksitas kondisinya.
- Perawat juga mencari informasi lengkap tentang rumah sakit alternatif, termasuk jenis perawatan yang dapat diberikan di sana dan perkiraan biaya.
- Persiapkan mental dan emosional untuk menyampaikan informasi dengan penuh empati.
Menentukan Waktu dan Tempat:
- Pilih waktu di mana Bapak Surya dan mungkin keluarganya dapat berbicara tanpa tergesa-gesa.
- Atur pertemuan di ruangan yang tenang dan privat agar tidak ada gangguan selama diskusi.
- Jika memungkinkan, undang anggota keluarga terdekat untuk mendukung Bapak Surya.
B. Membangun Hubungan Terapeutik (Build a Therapeutic Environment/Relationship)
Membangun Kepercayaan dan Kenyamanan:
- Mulai percakapan dengan salam hangat dan perhatian terhadap kondisi Bapak Surya. “Selamat siang, Pak Surya. Bagaimana kabar Bapak hari ini? Saya ingin memastikan Bapak merasa nyaman sebelum kita membahas beberapa hal penting.”
- Pastikan bahwa lingkungan nyaman dan perawat duduk sejajar dengan Bapak Surya, menandakan keterbukaan dan kesetaraan.
Memberikan Jaminan Dukungan:
- Katakan kepada Bapak Surya bahwa tujuan utama perawat adalah memastikan bahwa ia menerima perawatan terbaik yang sesuai dengan kebutuhannya. “Pak Surya, tujuan saya berbicara dengan Bapak hari ini adalah untuk memastikan Bapak mendapatkan informasi yang jelas dan mengetahui semua pilihan perawatan yang terbaik untuk kondisi Bapak.”
- Nyatakan bahwa perawat akan mendukungnya dalam setiap langkah proses ini. “Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil akan mendukung kebutuhan kesehatan Bapak sebaik mungkin.”
C. Berkomunikasi dengan Baik (Communicate Well)
Menyampaikan Informasi dengan Jelas dan Jujur:
- “Bapak Surya, saya harus menyampaikan beberapa informasi penting mengenai kondisi Bapak.”
- Sampaikan dengan jelas bahwa kondisi medis Bapak Surya membutuhkan perawatan khusus yang tidak dapat diberikan sepenuhnya di rumah sakit ini karena kompleksitas kasusnya. “Rumah sakit kami memiliki keterbatasan dalam hal fasilitas yang diperlukan untuk kondisi Bapak saat ini, dan biaya perawatan di sini akan sangat mahal.”
Menggunakan Bahasa yang Sederhana dan Menghindari Jargon:
- Hindari istilah medis yang rumit dan gunakan bahasa yang mudah dimengerti. “Apabila bapak berkenan, kami menyarankan agar Bapak dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki fasilitas lebih lengkap untuk menangani kondisi Bapak dan juga menawarkan biaya perawatan yang lebih terjangkau.”
Memberikan Waktu untuk Menyerap Informasi:
- Berikan Bapak Surya waktu untuk memproses informasi yang baru saja disampaikan.
- Diam sejenak dan perhatikan reaksi emosionalnya, siap untuk memberikan dukungan.
D. Menangani Reaksi Pasien dan Keluarga (Deal with Patient and Family Reactions)
Mengantisipasi dan Menanggapi Reaksi Emosional:
- Bersiaplah untuk berbagai reaksi emosional, termasuk kekecewaan, kekhawatiran, atau kebingungan.
- “Saya tahu ini mungkin berita yang sulit untuk diterima, dan wajar jika Bapak merasa cemas atau tidak yakin.”
- Beri kesempatan bagi Bapak Surya untuk mengungkapkan perasaan dan pertanyaannya. Dengarkan dengan penuh perhatian tanpa memotong pembicaraan.
Menawarkan Dukungan dan Penjelasan Lebih Lanjut:
- Jelaskan bahwa rujukan ke rumah sakit lain dilakukan demi kebaikan dan keselamatan Bapak Surya, memastikan ia mendapatkan perawatan yang paling tepat. “Kami paham bahwa ini mungkin bukan kabar yang mudah, tetapi pilihan ini diambil karena kami ingin memastikan Bapak mendapatkan perawatan yang terbaik. Rumah sakit yang akan kami rujuk memiliki tim medis yang berpengalaman dalam menangani kasus seperti Bapak.”
- “Selain itu, biaya perawatan di rumah sakit tersebut akan lebih terjangkau, dan ini juga penting untuk memastikan Bapak mendapatkan perawatan yang optimal tanpa beban finansial yang berlebihan.”
- “Kami akan membantu mengatur semua yang diperlukan untuk rujukan ini dan memastikan bahwa transisi perawatan Bapak berjalan lancar.”
Memastikan Pemahaman Pasien:
- Mintalah Bapak Surya untuk mengulangi pemahamannya tentang situasi ini untuk memastikan bahwa ia memahami informasi yang diberikan.
- “Bapak bisa ceritakan kembali apa yang Bapak pahami dari penjelasan ini, supaya kita bisa memastikan tidak ada yang terlewatkan?”
E. Dorong dan Validasi Emosi (Encourage and Validate Emotions)
Mengakui dan Memvalidasi Perasaan Pasien:
- “Saya mengerti bahwa ini mungkin sangat mengejutkan dan membingungkan bagi Bapak. Merasa seperti ini adalah hal yang sangat normal.”
- Validasi perasaan Bapak Surya, dan tawarkan dukungan emosional, menegaskan bahwa perawat ada di sana untuk mendukungnya.
Memberikan Rencana Tindak Lanjut:
- Berikan informasi mengenai langkah-langkah selanjutnya secara rinci.
- “Kami akan segera mengatur rujukan ke rumah sakit tersebut. Saya juga akan memberikan Bapak informasi kontak mereka, sehingga Bapak bisa menghubungi jika ada pertanyaan.”
- Jelaskan proses rujukan dan langkah-langkah yang akan diambil untuk memastikan perawatan berkelanjutan.
Memberikan Bahan Tertulis dan Dukungan Tambahan:
- Sediakan materi tertulis tentang rumah sakit alternatif dan layanan yang mereka sediakan.
- “Di sini ada beberapa informasi tertulis tentang rumah sakit yang kami sarankan, termasuk jenis perawatan yang dapat mereka berikan.”
- Tawarkan untuk menjadwalkan pertemuan lanjutan jika Bapak Surya membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan pilihannya atau memiliki pertanyaan lebih lanjut.
Proses Perasaan Perawat Sendiri:
- Setelah percakapan, ambil waktu sejenak untuk merenungkan perasaan sendiri sebagai perawat. Menghadapi reaksi emosional pasien bisa berat, dan penting untuk menjaga kesejahteraan emosional sendiri.
- Diskusikan dengan tim medis lain jika perlu, untuk memastikan dukungan dan perencanaan yang tepat bagi Bapak Surya.