Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang fundamental bagi setiap individu di seluruh dunia. Meskipun saat ini lebih banyak orang yang memiliki akses ke layanan kesehatan dasar, hampir 50% populasi dunia masih belum mendapatkannya, sehingga sekitar 100 juta orang di seluruh dunia jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem setiap tahun akibat biaya kesehatan yang harus dibayar sendiri (Wasaya, Zulfikar, & Rafiq, 2021). Tantangan etis muncul ketika keputusan pengobatan tergantung pada kemampuan pasien untuk membayar tagihan rumah sakit dibandingkan dengan peluang kelangsungan hidupnya.
Kasus
Ny. Anna Wade adalah seorang penjahit yang bekerja sendiri dan tidak memiliki asuransi kesehatan. Dia adalah wanita berusia 54 tahun yang umumnya dalam kondisi sehat, tidak pernah merokok, dan rutin berolahraga tiga kali seminggu. Pada bulan September 1999, dia mulai mengalami nyeri dada, terutama setelah makan dan di malam hari sebelum tidur. Kadang-kadang, rasa sakit tersebut terjadi saat dia berolahraga menggunakan sepeda statis di apartemennya. Awalnya, dia mengabaikan gejala tersebut, namun kemudian mulai khawatir karena kondisinya semakin memburuk. Dia juga mengalami penurunan nafsu makan dan berat badan.
Suatu hari, dia pergi ke rumah sakit bersama saudara perempuannya untuk memeriksakan diri ke klinik rawat jalan. Di meja pendaftaran, dia diminta membayar uang muka sebesar $38 karena statusnya yang tidak memiliki asuransi. Dokter yang memeriksa menduga gejalanya disebabkan oleh “heartburn,” yaitu kondisi di mana asam lambung naik ke kerongkongan. Namun, dokter juga menekankan pentingnya menjalani tes tambahan untuk mendeteksi kemungkinan penyakit jantung koroner atau kanker pada lambung dan kerongkongan. Dokter merekomendasikan tes stress jantung dan endoskopi, namun saat Ny. Wade menanyakan biayanya, dokter mengatakan bahwa biayanya akan melebihi $1.000.
Ny. Wade terlihat khawatir dan mengatakan bahwa dia tidak mampu membayar sebanyak itu. Dokter kemudian menyarankan untuk pergi ke rumah sakit umum, namun Ny. Wade menolak karena pengalaman buruk yang dialami oleh anggota keluarganya di sana. Karena tidak ada pilihan lain, dokter memutuskan untuk memberikan pengobatan dengan inhibitor pompa proton dengan biaya $117 per bulan, dan akan memantau kondisinya dalam 2 hingga 4 minggu.
Sebelum Ny. Wade pergi, perawat memberinya sampel obat inhibitor pompa proton yang disediakan oleh perwakilan farmasi. Dokter juga mengurangi biaya kunjungannya dengan menghapus biaya profesionalnya. Ny. Wade merasa lega dengan keringanan biaya tersebut, namun tetap khawatir dengan kondisi kesehatannya.

Adapun contoh percakapan perawat dalam menyampaikan dari masing-masing opsi:
- Opsi B: Lower Standard of Care (Perawatan dengan standar yang lebih rendah)
“Bu Wade, kami mengerti kekhawatiran Anda terkait biaya. Jika memungkinkan, kami dapat memberikan alternatif perawatan dengan standar yang lebih rendah, yang mungkin tidak melibatkan semua tes yang direkomendasikan, tetapi bisa membantu meringankan gejala yang Anda alami. Misalnya, kami bisa melanjutkan terapi obat dan memantau respons tubuh Anda terlebih dahulu. Meskipun ini mungkin bukan opsi terbaik untuk mendeteksi penyakit lebih awal, kami tetap akan berusaha menjaga kondisi Anda sebaik mungkin.”
- Opsi C: Refer to Safety Net Provider (Merujuk pasien ke penyedia layanan keamanan sosial)
“Bu Wade, ada opsi lain yang mungkin bisa membantu. Kami bisa merujuk Anda ke penyedia layanan kesehatan umum atau klinik yang memiliki program subsidi bagi pasien yang kesulitan membayar biaya perawatan. Saya memahami Anda pernah punya pengalaman yang kurang baik di fasilitas tersebut, tapi bisa jadi saat ini mereka telah memperbaiki pelayanannya, dan mungkin bisa menawarkan opsi perawatan yang lebih terjangkau bagi Anda.”
- Opsi D: Reduce or Waive Fee (Mengurangi biaya atau membebaskan biaya)
“Bu Wade, setelah berdiskusi dengan dokter, kami ingin memberitahu bahwa ada kemungkinan kami bisa mengurangi biaya beberapa layanan untuk Anda. Sebagai contoh, dokter telah menghapus sebagian biaya konsultasi hari ini. Kami juga bisa mempertimbangkan diskon atau bahkan penghapusan biaya profesional pada kunjungan berikutnya. Dengan cara ini, kami berharap bisa sedikit meringankan beban biaya perawatan Anda.”
- Opsi E: Bad Debt (Utang buruk)
“Bu Wade, jika Anda benar-benar tidak mampu membayar sekarang, ada opsi untuk mengatur pembayaran di kemudian hari. Anda bisa mendapatkan perawatan hari ini, dan kami bisa bekerja sama untuk merencanakan pelunasan tagihan secara bertahap sesuai kemampuan Anda. Ini mungkin akan mengakibatkan adanya catatan utang di masa depan, tetapi kami ingin memastikan Anda tetap mendapatkan perawatan yang diperlukan sekarang tanpa langsung memikirkan seluruh biaya.”
Rekomendasi Resolusi
- Diskusi Terbuka tentang Masalah Finansial (Respect for Persons & Compassion): Perawat harus secara proaktif menanyakan masalah keuangan kepada pasien. Hal ini sesuai dengan prinsip penghormatan terhadap pasien, di mana perawat mengakui hak pasien untuk mengetahui dan memahami situasi keuangan yang dapat mempengaruhi perawatan mereka. Dengan menunjukkan belas kasih, perawat dapat membahas masalah ini dengan cara yang sensitif, membantu mengurangi kecemasan atau ketidaknyamanan pasien saat membahas isu-isu finansial. Memberikan informasi tentang kemungkinan biaya dan opsi perawatan sejak awal juga memperlihatkan empati terhadap situasi pasien.
- Pengetahuan tentang Sumber Daya (Advocacy & Justice): Perawat harus memiliki pengetahuan tentang berbagai sumber daya yang tersedia, baik di institusi maupun di komunitas, yang dapat membantu pasien yang kurang mampu. Ini sejalan dengan prinsip advokasi, di mana perawat bertindak untuk kepentingan terbaik pasien. Selain itu, prinsip keadilan menuntut bahwa semua pasien memiliki akses yang adil terhadap layanan kesehatan, dan pengetahuan tentang sumber daya dapat membantu memastikan bahwa pasien yang kurang mampu juga mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.
- Konseling tentang Asuransi Kesehatan (Empathy & Advocacy): Saat mendiskusikan rencana perawatan dengan pasien atau keluarga, perawat harus memberikan pemahaman yang jelas tentang berbagai opsi asuransi kesehatan yang mungkin dapat membantu menutupi biaya perawatan. Dengan empati, perawat dapat membantu pasien memahami manfaat dan keterbatasan dari setiap opsi, memastikan bahwa keputusan yang diambil pasien adalah yang terbaik untuk situasi mereka. Melalui advokasi, perawat dapat membantu pasien menavigasi sistem asuransi yang kompleks.
- Konsultasi dengan Tim dan/atau Profesi lain (Collaboration & Advocacy): Jika pasien membutuhkan rujukan ke fasilitas lain yang lebih sesuai dengan kondisi finansial mereka, perawat harus bekerja sama dengan tim kesehatan lainnya, seperti dokter dan pekerja sosial, untuk memastikan rujukan tersebut dilakukan dengan tepat. Prinsip kolaborasi di sini penting untuk memastikan bahwa pasien menerima perawatan yang paling sesuai dan tepat untuk kebutuhan mereka, sementara advokasi memastikan bahwa kepentingan pasien selalu diutamakan.
- Pertimbangkan Intervensi Berdasarkan Biaya (Beneficence & Nonmaleficence): Saat merencanakan intervensi, perawat harus mempertimbangkan opsi yang paling terjangkau bagi pasien tanpa mengorbankan kualitas perawatan. Prinsip beneficence mengharuskan perawat untuk melakukan yang terbaik untuk kesejahteraan pasien, sementara nonmaleficence berarti tidak menyebabkan bahaya. Dengan mencari intervensi yang efektif namun terjangkau, perawat dapat membantu memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan yang diperlukan tanpa menyebabkan tekanan finansial yang tidak perlu.
- Berperan dalam Kebijakan Sosial (Justice & Advocacy): Perawat dapat mendukung kebijakan yang mempromosikan akses yang lebih adil terhadap layanan kesehatan, seperti program amal atau subsidi biaya perawatan untuk pasien yang tidak mampu membayar. Dengan mendukung kebijakan ini, perawat berkontribusi pada prinsip keadilan, yang menekankan distribusi sumber daya yang adil dan merata. Melalui advokasi di tingkat kebijakan, perawat dapat membantu memastikan bahwa sistem perawatan kesehatan menjadi lebih inklusif dan adil untuk semua pasien.
- Dokumentasi (Integrity & Accountability): Langkah terakhir yang penting adalah melakukan dokumentasi yang menyeluruh. Perawat harus mencatat semua diskusi yang berhubungan dengan masalah finansial, keputusan yang dibuat oleh pasien, opsi perawatan yang ditawarkan, dan setiap sumber daya atau bantuan yang diberikan. Dokumentasi ini penting untuk menjaga integritas dan akuntabilitas dalam praktik keperawatan, serta untuk memastikan bahwa ada catatan yang jelas mengenai bagaimana keputusan dibuat dan bagaimana perawatan pasien dikelola. Dokumentasi yang baik juga melindungi hak pasien dan memberikan bukti bahwa perawat telah melakukan upaya maksimal untuk membantu pasien dalam batasan yang ada.